Jl. Demang Lebar Daun no.168 Palembang Sumatera Selatan telpon. 0711 363693 email : ismoyofm@gmail.com
Rabu, 04 Mei 2016
Jumat, 09 November 2012
SEJARAH WAYANG KULIT
Wayang Kulit
WAYANG salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di antara banyak karya budaya lainnya. Budaya wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Budaya wayang, yang terus berkembang dari zaman ke zaman, juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan.
Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Keberadaan wayang sudah berabad-abad sebelum agama Hindu masuk ke Pulau Jawa. Walaupun cerita wayang yang populer di masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dan Mahabarata. Kedua induk cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami pengubahan dan penambahan untuk menyesuaikannya dengan falsafah asli Indonesia.
Penyesuaian konsep filsafat ini juga menyangkut pada pandangan filosofis masyarakat Jawa terhadap kedudukan para dewa dalam pewayangan. Para dewa dalam pewayangan bukan lagi merupakan sesuatu yang bebas dari salah, melainkan seperti juga makhluk Tuhan lainnya, kadang-kadang bertindak keliru, dan bisa jadi khilaf. Hadirnya tokoh panakawan dalam_ pewayangan sengaja diciptakan para budayawan Indonesia (tepatnya budayawan Jawa) untuk memperkuat konsep filsafat bahwa di dunia ini tidak ada makhluk yang benar-benar baik, dan yang benar-benar jahat. Setiap makhluk selalu menyandang unsur kebaikan dan kejahatan.
Dalam disertasinya berjudul Bijdrage tot de Kennis van het Javaansche Tooneel (1897), ahli sejarah kebudayaan Belanda Dr. GA.J. Hazeau menunjukkan keyakinannya bahwa wayang merupakan pertunjukan asli Jawa. Pengertian wayang dalam disertasi Dr. Hazeau itu adalah walulang inukir (kulit yang diukir) dan dilihat bayangannya pada kelir. Dengan demikian, wayang yang dimaksud tentunya adalah Wayang Kulit seperti yang kita kenal sekarang.
Asal Usul
Mengenai asal-usul wayang ini, di dunia ada dua pendapat. Pertama, pendapat bahwa wayang berasal dan lahir pertama kali di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Timur. Pendapat ini selain dianut dan dikemukakan oleh para peneliti dan ahli-ahli bangsa Indonesia, juga merupakan hasil penelitian sarjana-sarjana Barat. Di antara para sarjana Barat yang termasuk kelompok ini, adalah Hazeau, Brandes, Kats, Rentse, dan Kruyt.
Alasan mereka cukup kuat. Di antaranya, bahwa seni wayang masih amat erat kaitannya dengan keadaan sosiokultural dan religi bangsa Indonesia, khususnya orang Jawa. Panakawan, tokoh terpenting dalam pewayangan, yakni Semar, Gareng, Petruk, Bagong, hanya ada dalam pewayangan Indonesia, dan tidak di negara lain. Selain itu, nama dan istilah teknis pewayangan, semuanya berasal dari bahasa Jawa (Kuna), dan bukan bahasa lain.
Sementara itu, pendapat kedua menduga wayang berasal dari India, yang dibawa bersama dengan agama Hindu ke Indonesia. Mereka antara lain adalah Pischel, Hidding, Krom, Poensen, Goslings, dan Rassers. Sebagian besar kelompok kedua ini adalah sarjana Inggris, negeri Eropa yang pernah menjajah India.
Namun, sejak tahun 1950-an, buku-buku pewayangan seolah sudah sepakat bahwa wayang memang berasal dari Pulau Jawa, dan sama sekali tidak diimpor dari negara lain.
Budaya wayang diperkirakan sudah lahir di Indonesia setidaknya pada zaman pemerintahan Prabu Airlangga, raja Kahuripan (976 -1012), yakni ketika kerajaan di Jawa Timur itu sedang makmur-makmurnya. Karya sastra yang menjadi bahan cerita wayang sudah ditulis oleh para pujangga Indonesia, sejak abad X. Antara lain, naskah sastra Kitab Ramayana Kakawin berbahasa Jawa Kuna ditulis pada masa pemerintahan raja Dyah Balitung (989-910), yang merupakan gubahan dari Kitab Ramayana karangan pujangga India, Walmiki. Selanjutnya, para pujangga Jawa tidak lagi hanya menerjemahkan Ramayana dan Mahabarata ke bahasa Jawa Kuna, tetapi menggubahnya dan menceritakan kembali dengan memasukkan falsafah Jawa kedalamnya. Contohnya, karya Empu Kanwa Arjunawiwaha Kakawin, yang merupakan gubahan yang berinduk pada Kitab Mahabarata. Gubahan lain yang lebih nyata bedanya derigan cerita asli versi India, adalah Baratayuda Kakawin karya Empu Sedah dan Empu Panuluh. Karya agung ini dikerjakan pada masa pemerintahan Prabu Jayabaya, raja Kediri (1130 - 1160).
Wayang sebagai suatu pergelaran dan tontonan pun sudah dimulai ada sejak zaman pemerintahan raja Airlangga. Beberapa prasasti yang dibuat pada masa itu antara lain sudah menyebutkan kata-kata "mawayang" dan `aringgit' yang maksudnya adalah pertunjukan wayang.
Mengenai saat kelahiran budaya wayang, Ir. Sri Mulyono dalam bukunya Simbolisme dan Mistikisme dalam Wayang (1979), memperkirakan wayang sudah ada sejak zaman neolithikum, yakni kira-kira 1.500 tahun sebelum Masehi. Pendapatnya itu didasarkan atas tulisan Robert von Heine-Geldern Ph. D, Prehistoric Research in the Netherland Indie (1945) dan tulisan Prof. K.A.H. Hidding di Ensiklopedia Indonesia halaman 987.
Kata `wayang' diduga berasal dari kata `wewayangan', yang artinya bayangan. Dugaan ini sesuai dengan kenyataan pada pergelaran Wayang Kulit yang menggunakan kelir, secarik kain, sebagai pembatas antara dalang yang memainkan wayang, dan penonton di balik kelir itu. Penonton hanya menyaksikan gerakan-gerakan wayang melalui bayangan yang jatuh pada kelir. Pada masa itu pergelaran wayang hanya diiringi oleh seperangkat gamelan sederhana yang terdiri atas saron, todung (sejenis seruling), dan kemanak. Jenis gamelan lain dan pesinden pada masa itu diduga belum ada.
Untuk lebih menjawakan budaya wayang, sejak awal zaman Kerajaan Majapahit diperkenalkan cerita wayang lain yang tidak berinduk pada Kitab Ramayana dan Mahabarata. Sejak saat itulah ceritacerita Panji; yakni cerita tentang leluhur raja-raja Majapahit, mulai diperkenalkan sebagai salah satu bentuk wayang yang lain. Cerita Panji ini kemudian lebih banyak digunakan untuk pertunjukan Wayang Beber. Tradisi menjawakan cerita wayang juga diteruskan oleh beberapa ulama Islam, di antaranya oleh para Wali Sanga. Mereka mulai mewayangkan kisah para raja Majapahit, di antaranya cerita Damarwulan.
Masuknya agama Islam ke Indonesia sejak abad ke-15 juga memberi pengaruh besar pada budaya wayang, terutama pada konsep religi dari falsafah wayang itu. Pada awal abad ke-15, yakni zaman Kerajaan Demak, mulai digunakan lampu minyak berbentuk khusus yang disebut blencong pada pergelaran Wayang Kulit.
Sejak zaman Kartasura, penggubahan cerita wayang yang berinduk pada Ramayana dan mahabarata makin jauh dari aslinya. Sejak zaman itulah masyarakat penggemar wayang mengenal silsilah tokoh wayang, termasuk tokoh dewanya, yang berawal dari Nabi Adam. Sisilah itu terus berlanjut hingga sampai pada raja-raja di Pulau Jawa. Dan selanjutnya, mulai dikenal pula adanya cerita wayang pakem. yang sesuai standar cerita, dan cerita wayang carangan yang diluar garis standar. Selain itu masih ada lagi yang disebut lakon sempalan, yang sudah terlalu jauh keluar dari cerita pakem.
Memang, karena begitu kuatnya seni wayang berakar dalam budaya bangsa Indonesia, sehingga terjadilah beberapa kerancuan antara cerita wayang, legenda, dan sejarah. Jika orang India beranggapan bahwa kisah Mahabarata serta Ramayana benar-benar terjadi di negerinya, orang Jawa pun menganggap kisah pewayangan benar-benar pernah terjadi di pulau Jawa.
Dan di wilayah Kulonprogo sendiri wayang masih sangatlah diminati oleh semua kalangan. Bukan hanya oleh orang tua saja, tapi juga anak remaja bahkan anak kecil juga telah biasa melihat pertunjukan wayang. Disamping itu wayang juga biasa di gunakan dalam acara-acara tertentu di daerah kulonprogo ini, baik di wilayah kota Wates ataupun di daerah pelosok di Kulonprogo.
Rabu, 07 November 2012
Sumber: harian banyuasin
TALANG KELAPA - Resowitoyo , warga RT 38 Kelurahan Sukimoro Kecamatan Talang Kelapa meminta kejelasan pada Pemerintah Kabupaten Banyuasin, tentang status lahan 1,25 hektar yang kini digunakan sebagai pasar kalangan Kelurahan Sukomoro.
Menurutnya , lahan seluas 1,25 Ha tersebut, merupakan lahan miliknya, namun sejak 1983 telah dijadikan pasar dengan bukti berupa tanda serah terima atas nama Kerio Dusun Sukomoro. Pada saat penyerahan tanah tersebut, Resowitoyo dijanjikan akan mendapatkan tanah lain sebagai ganti rugi.
Adapun penyerahan tanah untuk dijadikan pasar itu , Rosowitoyo diwakili oleh pemerintah desa dan LPM Sukomoro. Hingga kini tanah pengganti yang dijanjikan itu tidak kunjung didapat.
“Kenyataannya tidak ada kompensasi, entah itu sewa, tukar guling lahan atau ganti rugi langsung, yang pasti saya minta kejelasan,” jelasnya kepada HARIAN BANYUASIN, kemarin.
Sementara kuasa hukum Resowitoyo, Syamsir Muhda SH MH mengatakan, kliennya sebagai pemilik tanah sudah memberikan surat mandat untuk menjadi kuasa hukum.
Syamsir pun berharap pemerintah Kabupaten Banyuasin melalui instansi terkait mau memberikan keterangan sejelas-jelasnya terkait status tanah. Hal itu dilakukan untuk menghindari gugatan hokum yang dilakukan kliennya.
“Ada baiknya pemerintah memberikan penjelasan sejelas-jelasnya sehingga permasalah ini tidak terus berlarut-larut,” katanya.
Sementara, Lurah Sukomoro Kemas Dhoriman SPd dikonfirmasi mengatakan , permasalahan tanah pasar itu sudah jelas bahkan sebelumnya sudah dibahas di Pemerintah Kabupaten Banyuasin. Jadi , intinya status tanah pasar memiliki surat-surat yang lengkap.
“Dokumenya ada di kelurahan, dan menurut kami tidak ada masalah lagi, bila ada pihak yang mempertanyakan bisa mengeceknya langsung,” pungkasnya. (din)
Minggu, 21 Oktober 2012
Jumat, 31 Agustus 2012
Sabtu, 25 Agustus 2012
KAYUAGUNG – Hingga H+6 Hari Raya Idul Fitri 1433 H arus balik kendaraan yang melintasi Jalan Lintas Timur (Jalintim) Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Jumat (23/8/2012), baik dari Palembang maupun Lampung, belum meningkat. “Untuk arus balik yang melintas di H+6 ini masih dalam keadaan normal dan belum ada menunjukan peningkatan yang signifikan,” kata Kapolres OKI AKBP Agus F SH SIk melalui Kasat Lantas AKP Ketut S SH SIk saat dihubungi Sripoku.com via telepon. Menurut Ketut, peningkatan diperkirakan terjadi pada Sabtu (H+7) dan Minggu (H+8). “Hingga H+6, belum menunjukan kepadatan kendaraan di Jalintim OKI. Untuk Jalintim masih dalam kondisi lancar, aman dan terkendali,” kata AKP Ketut. Penulis : Mat Bodok Editor : Sudarwan
Kamis, 23 Agustus 2012
Jakarta Pada H-4 menjelang Lebaran, terpantau peningkatan volume kendaraan di wilayah Kalimalang, Jakarta Timur yang mengarah ke Cikampek. Kepadatan didominasi oleh para pemudik yang menggunakan sepeda motor.
"Kepadatan dimulai dari Pangkalan Jati, Bekasi Barat hingga ke Cikampek," ujar operator TMC Polda Metro Jaya, Briptu David, saat dihubungi detikcom, Rabu (15/8/2012), sekitar pukul 07.10 WIB.
Sebagian besar sepeda motor yang memadati wilayah Kalimalang ini rata-rata membawa barang-barang bawaan yang cenderung besar seperti tas dan kardus. Peningkatan kendaraan ini mulai terpantau pagi ini.
"Bisa jadi pemudik. Belum terlalu padat , namun mulai ada peningkatan volume kendaraan," terangnya.
Belum ada pengalihan lalu lintas atau pemberlakuan jalur alternatif di wilayah tersebut. Meskipun terpantau padat, arus lalu lintas dinilai masih normal untuk dilalui.
"Kepadatan dimulai dari Pangkalan Jati, Bekasi Barat hingga ke Cikampek," ujar operator TMC Polda Metro Jaya, Briptu David, saat dihubungi detikcom, Rabu (15/8/2012), sekitar pukul 07.10 WIB.
Sebagian besar sepeda motor yang memadati wilayah Kalimalang ini rata-rata membawa barang-barang bawaan yang cenderung besar seperti tas dan kardus. Peningkatan kendaraan ini mulai terpantau pagi ini.
"Bisa jadi pemudik. Belum terlalu padat , namun mulai ada peningkatan volume kendaraan," terangnya.
Belum ada pengalihan lalu lintas atau pemberlakuan jalur alternatif di wilayah tersebut. Meskipun terpantau padat, arus lalu lintas dinilai masih normal untuk dilalui.
Selasa, 21 Agustus 2012
Arus Balik Mulai Ramai
SRIPOKU.COM, BATURAJA - Memasuki +2 -Idul Fitri arus balik kendaraan roda empat di Jalinsum mulai terlihat ramai.
Umumnya para pemudik lebaran yang habis merayakan Idul Fitri di kampung halaman ini sebagian besar karyawan perushaan.
Terlihat dibagasi atas mobil padat di antaranya ada oleh-oleh dari kampung halaman berupa bibit tanaman.
Umumnya para pemudik lebaran yang habis merayakan Idul Fitri di kampung halaman ini sebagian besar karyawan perushaan.
Terlihat dibagasi atas mobil padat di antaranya ada oleh-oleh dari kampung halaman berupa bibit tanaman.
Penulis : Leni Juwita
Editor : Sudarwan
Kamis, 16 Agustus 2012
Rabu, 15 Agustus 2012
Tentang Radioismoyo
SARONO SRAWUNG KITO SAMI Frekwensi 88,7 FM
MANAGEMENT :
- Kepala Studio : Raden Bejo
- Marketing : Junaidi
- Announcer :
- Den Mas Kuncung (LESEHAN)
- Den Mas Ragil Ibrahim (Kopi Pagi/Acara anak muda/ Ulang Tahun)
- Den Mas Eko gudel (HARI SPESIAL)
- Den Mas Satrio ( Njajah Deso )
- Dina Mariana (MEMORY )
- Inem wiganti ( Citra Keluarga & Capil Ismoyo )
- Siti ayu ( Anak Muda )
Radio Ismoyo merupakan Radio dengan kesenian budaya jawa pertama yang ada di kota Palembang. Dengan jargon " SARONO SERAWUNG KITO SAMI" mengajak seluruh warga jawa di provinsi Sumatera Selatan untuk bersatu dalam suasana kekeluargaan.
Radio Ismoyo merupakan Radio dengan kesenian budaya jawa pertama yang ada di kota Palembang. Dengan jargon " SARONO SERAWUNG KITO SAMI" mengajak seluruh warga jawa di provinsi Sumatera Selatan untuk bersatu dalam suasana kekeluargaan.
Sabtu, 11 Agustus 2012
Mobil Dinas Pemprov Sumsel Dilarang untuk Mudik Lebaran
Gubernur Sumatera Selatan H Alex Noerdin melarang pejabat di lingkungan pemerintah setempat menggunakan mobil dinas untuk mudik Lebaran.
"Mobil dinas untuk kepentingan pekerjaan, bukan digunakan untuk pribadi," kata gubernur kepada wartawan di Palembang, Sabtu (11/8/2012).
Selasa, 07 Agustus 2012
Warga Terima E-KTP yang Belum Diverifikasi
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Diduga lantaran terlalu lama warga menunggu belum diperbaikinya peralatan, petugas Kantor Kecamatan Alang Alang Lebar petugas terpaksa membagikan E-KTP yang belum diverifikasi kecocokan datanya.
"Betul mesin kita dua-duanya mengalami kerusakan sejak seminggu yang lalu hingga sampai sekarang belum juga benar. Kita sudah laporkan ke Capil (Catatan Sipil). Ini kebijakan kita yang membagikan, karena mereka terlalu lama menunggu," ujar Camat Alang Alang Lebar, Sulaiman Amin, Senin (6/8/2012).
Petani Karet di Banyuasin Terpukul
SRIPOKU.COM, PANGKALANBALAI - Petani karet di Banyuasin menjelang Idul Fitri 1433 H kian terpuruk. Harga karet mingguan yang biasanya Rp 13 ribu perkilogram kini hanya dibeli para toke seharga Rp 8.000 perkilogram.
Tentunya turunnya harga karet ini membuat bingung para petani karet terutama dalam memenuhi kebutuhan lebaran tahun ini.






